Khutbah Jum'at - Tanda-Tanda Maqbulnya Amal Shalih



Naskah khutbah Jumat ini mengajak kita untuk merenungkan apa saja tanda tanda dari Maqbulnya Amal shalih. karena amalan shalih yang menimbulkan ketakwaan dan memberikan kekuatan untuk senantiasa beramal shalih setelahnya, itu tanda adalah amalan yang dicintai oleh Allah SWT dan diterima olehNya.

Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul "Khutbah Jumat: Tanda-Tanda Maqbulnya Amal Shalih". Semoga bermanfaat! (Redaksi)

Oleh : Ustadz Hakim Syukri Alhamda, S.Pd.

Khutbah Pertama

.

Hadirin yang Mulia

Pada kesempatan istimewa dan di tempat sarat berkah ini saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada Anda semua, mari kita meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan berusaha sekuat tenaga melaksanakan perintah serta menjauhi larangan-Nya.

Hendaknya kita menyadari bersama bahwa pesan takwalah yang senantiasa disampaikan setiap Jumat memberikan peringatan bahwa hal tersebut tentu sangatlah penting. Sama seperti peringatan bupati, gubernur maupun presiden yang disampaikan setiap pekan, maka pasti memberikan makna yang sangat dalam. Karenanya, mari ketakwaan tersebut kita jaga dengan baik.

Jamaah jum’at Rahimakumullah

Sesungguhnya di antara tanda diterimanya amal kita adalah menimbulkan amalan shalih yang lainnya. Al-Hasan Al-Bashri berkata:

“Sesungguhnya balasan amal shalih yang dilakukan oleh seorang hamba adalah diberikan oleh Allah kekuatan untuk mengamalkan amalan shalih yang lainnya.”

Maka ketika seorang hamba beramal shalih, ia shalat, ia berdzikir, ia membaca Al-Qur’anul Karim, ternyata amal shalihnya menimbulkan ibadah yang lainnya, menyebabkan ia lebih kuat untuk beramal shalih dan mengamalkan ibadah-ibadah yang lainnya. Maka itu pertanda bahwasannya amal-amal shalih kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagaimana ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: “Kalaulah aku mengetahui ada satu shalatku yang diterima oleh Allah, itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya,” karena Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah hanyalah menerima dari orang-orang yang bertakwa saja.” (QS. Al-Maidah[5]: 27)

Itu menunjukkan bahwasanya amalan shalih yang menimbulkan ketakwaan dan memberikan kekuatan untuk senantiasa beramal shalih setelahnya, itu tanda adalah amalan yang dicintai oleh Allah SWT dan diterima olehNya.

Karena sesungguhnya disyariatkan amal shalih dan ibadah kepada Allah SWT adalah menimbulkan ketakwaan kepada Allah. Allah SWT berfirman:

“Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 21)

Jamaah jum’at Rahimakumullah

Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepada Allah SWT, lalu Allah SWT menyebutkan tentang hikmah dan tujuan dari pada amal shalih dan ibadah, yaitu agar kalian bertakwa kepada Allah.

Maka apabila amal shalih kita, ibadah kita, tidak menimbulkan ketakwaan kepada Allah, itu pertanda bahwasanya amal shalih itu tidak diterima oleh Allah SWT. Ketika kita beribadah kepada Allah SWT namun tidak memberikan kekuatan untuk beribadah kepada Allah SWT setelahnya, itu pertanda bahwasannya amal tersebut dimasuki oleh sesuatu.

Sebuah contoh, ketika kita telah shalat fardhu lalu kemudian diberikan oleh Allah kekuatan untuk berdzikir setelahnya, setelah itu kemudian Allah berikanlah kekuatan untuk shalat sunah setelahnya, maka itu menunjukkan bahwa amalan yang kita mengandung amalan yang diterima dan mudah-mudahan bahwasa shalat fardhu kita diterima oleh Allah Jalla wa ‘Ala.

Ketika kita membaca Al-Qur’anul Karim, kemudian ketika membaca Al-Qur’an membuat kita ingat kepada Allah, membuat kita ingat kepada kehidupan akhirat kemudian setelahnya menimbulkan rasa rindu untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu pertanda bahwasannya bacaan Al-Qur’an kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun ketika kita shalat, ternyata tidak ada keinginan untuk berusaha menjaga shalat sunnah kita, ketika kita shalat ternyata tidak memberikan kekuatan di hati kita untuk meninggalkan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu pertanda shalat kita belum diterima oleh Allah Jalla wa ‘Ala. Karena bukankah Allah mengatakan:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut[29]: 45)

Ternyata ia shalat tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Apakah ada sesuatu yang memasuki hatinya saat ia shalat? Bisa jadi riya’ yang masuk ke dalam hatinya, bisa jadi ketika shalat tidak pernah khusyuk, pikirannya pergi kesana-kemari, tidak bisa ia khusyuk di dalam shalatnya, sehingga akhirnya Allah tidak menerima shalatnya. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan:

“Sesungguhnya seseorang hamba setelah selesai dari shalatnya ternyata hanya ditulis oleh Allah pahala sepersepuluh shalatnya saja, ada yang sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan setengah.” (HR Abu dawud)

Jamaah jum’at Rahimakumullah

Maka setiap kita segera introspeksi diri, ketika kita telah beribadah kepada Allah, apakah ibadah itu menimbulkan kekuatan kita untuk beribadah kepada Allah yang lainnya? Ketika kita telah selesai beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, segera kita introspeksi dan periksa hati kita, apakah ibadah itu menimbulkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atau tidak? Apabila tidak, maka ucapkan inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Karena itu adalah musibah yang menimpa diri kita.

Khutbah Kedua